Balikpapan – Samarinda — Prestasi membanggakan kembali ditorehkan para santri program Takhassus Bahasa Arab dan Ilmu Syar’i Hidayatullah. Dua santri terbaik dari Kalimantan Timur berhasil meraih Juara 1 dalam ajang Olimpiade Bahasa Arab (OBA) tingkat kota dan akan mewakili daerahnya di tingkat provinsi.
Adalah Rafiif Irfan El Muzakki, santri Takhassus MA Raadhiyatan Mardhiyyah Putra Kampus Induk Hidayatullah Balikpapan, dan Muhammad Iqomatut Tauhid, santri Takhassus MA Luqman Al-Hakim Kampus Utama Hidayatullah Samarinda, yang sukses mengungguli peserta lainnya di kota masing-masing. Keduanya akan bertemu sebagai duta pelajar bahasa Arab pada ajang OBA tingkat Provinsi Kalimantan Timur mewakili sekolah dan kota asal.

“Alhamdulillah, ini menjadi pengalaman pertama kali Madrasah kami mengikuti Olimpiade Bahasa Arab dan langsung meraih markaz awwal, juara 1,” terang Mudir Takhassus MA Raadhiyatan Mardhiyyah Putra Ustadz Nashiruddin Jundi Hasbullah, S.H. Alumnus PUZ angkatan pertama.
Hal senada juga disampaikan oleh Kepala Madrasah Aliyah Luqman Al-Hakim Hidayatullah Samarinda Ustadz Muhammad Rifa’i, S.H., Alumnus PUZ angkatan ketiga.
Program Takhassus Bahasa Arab dan Ilmu Syar’i merupakan program strategis baru yang mulai diterapkan pada tahun ajaran 2024–2025 dan langsung dibina oleh Idarah Pendidikan Ulama Zuama (PUZ). Meskipun baru berjalan satu tahun, program ini telah menampakkan hasil yang signifikan, khususnya dalam penguatan Biah Lughawiyah (lingkungan berbahasa Arab aktif) dan pencapaian hafalan Al-Quran 5-10 juz sekali duduk.
Kini, Rafiif dan Tauhid telah naik ke kelas 11 MA bersama rekan seangkatan, mereka mempelajari berbagai cabang ilmu Ushul Syariah seperti Ushul Fiqh, Ushul Tafsir, Ushul Nahwi, Musthalah Hadits, dan Aqidah sebagai bagian dari fondasi keilmuan berbahasa Arab yang kokoh.
Menariknya, kurikulum Takhassus ini merupakan hasil adaptasi dari kurikulum Idad Lughawi, program pra-kuliah Pendidikan Ulama Zuama yang telah berjalan konsisten selama 4 angkatan di Balikpapan dan Yogyakarta. Beberapa mata kuliah dasar dari tahun pertama PUZ juga diturunkan secara selektif ke tingkat Madrasah Aliyah Hidayatullah, dengan harapan terjadi akselerasi pembinaan yang terukur dan berkualitas sejak dini, bahkan sebelum memasuki jenjang kuliah.
Mudir Pendidikan Ulama Zuama, Ustadz Muhammad Dinul Haq, Lc. menegaskan bahwa output yang dituju dari program Takhassus ini adalah lahirnya kader ulama muda yang unggul dalam bahasa Arab, menguasai disiplin ilmu syar’i, hafal minimal 15 juz Al-Quran, dan memiliki jiwa kepemimpinan Islam.
“Inilah model pendidikan kader ulama zuama yang kami siapkan dari bangku MA, dan insyaallah akan terus dikembangkan bertahap ke tingkat MTs dan MI,” ujarnya.
Selain di Kalimantan Timur, program Takhassus juga tengah berjalan 1 tahun di MA Integral Kampus Madya Hidayatullah Manokwari, Papua Barat.
Dengan telah dimulainya program ini secara bertahap di tiga level kampus Induk, Utama, dan Madya — PUZ berharap ke depan program ini dapat berkembang luas ke seluruh kampus pondok pesantren Hidayatullah di Indonesia, sebagai bagian dari penguatan mainstream tarbiyah dan dakwah dalam visi besar membangun peradaban Islam.
Prestasi Rafiif dan Tauhid menjadi bukti bahwa program Takhassus bukan sekadar konsep, melainkan langkah konkret dalam membangun generasi ulama pemimpin muda yang berkompetensi dan berprestasi. Insyaallah.